← Kembali ke publikasi
Artikel & Opini · Pendidikan & SDM · Tanya Publik

Kalau AI Bisa Ngerjain PR, Emang Masih Perlu Sekolah?

Anak laki-laki menulis di buku catatan dengan pensil di meja belajar, dengan layar bergambar ikon kepala bertuliskan AI dan robot mainan di latar belakang.

Jawaban singkatnya: karena PR itu bukan produk yang harus disetor — dia latihan. Dan namanya latihan, ya nggak bisa diwakilin. AI yang ngerjain PR-mu itu ibarat nyuruh orang lain angkat beban di gym atas nama kamu: catatan latihannya penuh, tapi ototnya tetap punya dia, bukan kamu.

Nah, ini versi panjangnya, soalnya pertanyaan ini kelewat bagus buat dijawab satu paragraf doang.

Ada asumsi keliru yang nyelip di pertanyaan ini

Pertanyaan “kalau AI bisa ngerjain PR, buat apa sekolah” itu diam-diam nyimpen satu asumsi: seolah hasil PR itulah tujuannya. Kalau esainya jadi, tugas kelar, misi sukses. Padahal asumsi itu keliru — dan menariknya, keliru dengan cara yang mirip pertanyaan-pertanyaan lama: “kalau kalkulator bisa ngitung, buat apa belajar matematika?” atau “kalau Google bisa jawab, buat apa hafalan?”

Sekolah sebenarnya nggak pernah butuh-butuh amat sama esaimu. Dunia nggak kekurangan esai tentang pahlawan nasional atau laporan pengamatan kecambah. Yang dibutuhkan sekolah itu apa yang terjadi di kepalamu selama bikin esai itu: milah-milah informasi, nyusun argumen, macet di tengah jalan, kesel, terus akhirnya nemu jalan keluar. Proses yang nggak nyaman itulah produk sebenarnya. Esainya cuma bukti sampingan.

Kata bukti — dan seberapa jauh kita boleh percaya

Tahun 2025, tim MIT Media Lab merekam aktivitas otak 54 orang yang nulis esai dalam tiga kondisi: pakai bantuan AI, pakai mesin pencari, dan tanpa alat sama sekali. Hasilnya, kelompok tanpa alat punya jaringan konektivitas otak paling kuat dan menyebar, sementara kelompok AI paling lemah. Kelompok AI juga paling susah ngutip isi esai yang baru aja mereka tulis sendiri, dan paling sedikit ngerasa memiliki tulisannya. Peneliti nyebut fenomena ini cognitive debt — utang kognitif: kemudahan yang dinikmati sekarang, dibayar pakai kemampuan yang nggak pernah terbentuk.

Tapi jujur aja, ada dua catatan penting. Pertama, studi ini masih preprint, sampelnya kecil, dan udah dapat komentar metodologis yang nyaranin baca hasilnya lebih hati-hati — jadi jangan langsung telan angka-angka dramatisnya bulat-bulat. Kedua, temuan ini bukan berdiri sendirian: dia nyambung ke tradisi riset cognitive offloading yang jauh lebih lama, dari “efek Google” ke memori (2011) sampai efek GPS ke kemampuan navigasi ruang. Polanya konsisten: kemampuan yang nggak pernah dilatih ya nggak bakal terbentuk, dan yang jarang dipakai bakal tumpul. Otak, dalam hal ini, memang mirip otot.

Bedanya sama kalkulator: kalkulator cuma ambil alih berhitung. AI generatif nawarin diri buat ambil alih justru kemampuan yang paling mahal — merangkai argumen, nimbang bukti, nulis pikiran sendiri. Itu bukan skill pelengkap, itu inti dari belajar itu sendiri.

Bagian yang jarang diakui: sebagian PR emang layak dipertanyakan

Ini bagian yang jujur nih. Kalau ada PR yang bisa dikerjain sempurna sama AI dalam sepuluh detik — soal yang jawabannya tinggal disalin, rangkuman yang nggak pernah dibaca gurunya — berarti yang keekspos sama AI bukan cuma siswa yang males, tapi juga tugas yang emang males dibuat. AI nggak nyiptain masalah itu, dia cuma bikin masalahnya nggak bisa lagi disembunyiin.

Regulasi terbaru kita sebenarnya udah baca soal ini. SKB tujuh menteri yang berlaku sejak Maret 2026 nggak asal ngelarang AI: dia bagi pemakaian ke tiga zona. Ujian dan tugas pemahaman konsep dasar masuk zona merah — kerjain sendiri, titik. Tapi ada zona kuning (AI boleh buat curah gagasan, dengan pengakuan jujur) dan zona hijau, di mana siswa malah dianjurkan pakai AI: bandingin jawaban antar-platform, bedah di mana AI-nya salah, pakai AI buat visualisasi data. Coba perhatiin logikanya — di zona hijau, AI berhenti jadi joki dan berubah jadi lawan tanding. Kamu nggak bakal tambah pintar dengan nyalin jawabannya; kamu tambah pintar justru dengan memeriksa jawabannya.

Guru juga didorong ubah cara menilai: bukan cuma hasil akhir, tapi draf, catatan proses, dan kemampuan kamu jelasin argumen secara lisan. Di dunia kayak gitu, “AI bisa ngerjain PR-ku” berhenti jadi celah — karena yang dinilai emang udah bukan sesuatu yang bisa dikerjain AI lagi.

Jadi, emang masih perlu sekolah?

Justru di era AI, jawabannya makin jelas. Pas semua orang punya akses ke mesin yang bisa ngeluarin teks apa aja, yang bikin kamu beda bukan lagi soal punya jawaban — semua orang udah punya. Yang bikin beda itu kemampuan nilai jawaban mana yang bener, nanya dengan tajam, ngedeteksi omong kosong yang ditulis meyakinkan, dan tetap bisa mikir sendiri pas mesinnya salah atau lagi mati. Semua itu dibangun dengan cara yang membosankan dan nggak ada jalan pintasnya: latihan bertahun-tahun. Itulah yang sebenarnya kamu beli dengan ngerjain PR sendiri.

AI bisa ngerjain PR-mu. Yang nggak bisa dia kerjain adalah bikin kamu jadi lebih mampu di ujung prosesnya. Sekolah — dengan segala kekurangannya yang juga harus terus kita kritik — adalah tempat proses itu kejadian.


Punya pertanyaan yang menurutmu kelewat sederhana buat ditanyain tapi belum pernah dijawab serius? Kirim aja — rubrik ini emang ada buat itu.

kecerdasan-buatanpekerjaan-rumahbelajarskb-7-mentericognitive-offloading