Londo Ireng: Riwayat Sebuah Sebutan yang Bergeser dan Kenapa Tetap Bertahan Lama
Artikel ini membahas topik sensitif. Dibaca dengan konteks dan kehati-hatian.
Sebagian besar orang Indonesia yang pernah mendengar sebutan “Londo Ireng” menduga ia menamai orang pribumi yang menjadi serdadu Belanda. Dugaan itu keliru, setidaknya untuk rujukan aslinya. Istilah itu lahir untuk sekelompok orang yang sama sekali bukan penduduk Nusantara.
Antara 1831 dan 1872, sekitar tiga ribu pemuda Afrika Barat direkrut di pos dagang Belanda di Elmina, di pesisir yang kini menjadi Ghana, untuk dikirim ke Jawa dan bertugas di tentara kolonial. Sebagian datang atas kemauan sendiri. Sebagian besar tidak. Merekalah yang dalam bahasa Melayu disebut Orang Belanda Hitam dan dalam bahasa Jawa disebut Londo Ireng.
Riwayat perpindahan sebutan itu — dari serdadu Afrika ke serdadu Ambon dan Menado — bukan sekadar catatan kaki linguistik. Ia membuka jalan ke persoalan yang lebih besar: bagaimana kategori etnis dalam administrasi kolonial dibentuk, siapa yang berkepentingan atasnya, dan mengapa angka-angka yang dihasilkannya perlu dibaca dengan curiga.
Rujukan harfiah
Rekrutmen Afrika Barat lahir dari krisis tenaga manusia. Perang Jawa 1825–1830 menghabiskan ribuan militer Eropa dan jumlah serdadu pribumi yang jauh lebih besar. Pemerintah kolonial membutuhkan pengganti yang tidak bisa diambil dari Belanda, karena wajib militer di negeri induk tidak boleh dikirim ke koloni.
Elmina menjadi jawabannya. Rekrutan diperoleh lewat konstruksi hukum yang rapi sekaligus menyesatkan: mereka dianggap membeli kebebasan sendiri dari perbudakan lewat uang muka yang dibayarkan tentara kepada tuan mereka, yang kemudian dipotong dari gaji. Secara administratif mereka sukarelawan. Secara substansi banyak di antaranya diperoleh di pasar budak Kumasi, ibu kota kerajaan Ashanti.
Mereka diberi nama Belanda dan pelatihan militer seadanya, dengan kontrak enam sampai dua belas tahun. Setelah kontrak berakhir, sebagian pulang ke Afrika dan sekitar empat ratus lima puluh orang memilih menetap, menikahi perempuan setempat, dan menurunkan keluarga Indo-Afrika yang tercatat sebagai Eropa dan berpaspor Belanda. Keturunan mereka terkonsentrasi di kota-kota garnisun Jawa — Batavia, Semarang, Salatiga, Solo, dan terutama Purworejo, tempat pemerintah membeli sebidang tanah pada 1859 khusus untuk mereka.
Di sinilah letak inti sebutan itu. Londo Ireng bukan deskripsi warna kulit belaka. Ia menandai kejanggalan hukum: orang berkulit gelap, bernama Belanda, berstatus Eropa, di tengah masyarakat yang seluruh tatanannya dibangun di atas pemilahan antara Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Sebutan itu menamai sebuah anomali kategori.
Perpindahan tangan
Pada paruh kedua abad kesembilan belas, kebijakan rekrutmen bergeser. Pemerintah kolonial menggencarkan perekrutan yang menyasar penduduk Kepulauan Maluku dan Minahasa — kelompok yang dianggap lebih dapat diandalkan karena keyakinan Kristen mereka, dengan asumsi bahwa penganut Kristen dapat diadu dengan kaum pribumi ketika yang dihadapi adalah perlawanan bersenjata yang kerap berbendera Islam. Pemerintah kolonial Belanda telah memainkan kartu ini dengan baik dan terbukti efektif.
Bersamaan dengan itu, sebutan Belanda Hitam berpindah sasaran. Ia mulai dipakai untuk serdadu Ambon dan Menado, dan dipakai dari dua arah yang berlawanan.
Dari luar, sebagai ejekan. Orang Jawa menyebut serdadu Ambon “Belanda hitam” — orang Jawa menyebut Belanda dengan sebutan londo dari sinilah istilah londo ireng itu bergeser.
Dari dalam, sebagai klaim. Orang Menado mengklaim sendiri sebutan “Belanda Hitam” beserta julukan “Provinsi Kedua Belas Belanda”. Dieter Bartels, yang menelusuri metamorfosis identitas ini, mengutip Ben van Kaam yang mencatat bahwa kecenderungan orang Maluku menyebut diri Belanda Hitam menimbulkan pada orang Belanda dua reaksi sekaligus: kejengkelan, dan kepuasan.
Satu sebutan, tiga fungsi. Penanda status hukum bagi orang Afrika, tuduhan pengkhianatan di mulut orang Jawa, klaim kedudukan di mulut orang Menado. Yang menyatukan ketiganya adalah bahwa semuanya berputar di sekitar hal yang sama — jarak seseorang dari kategori “Eropa” dalam sistem yang menjadikan kategori itu bernilai.
Angka yang tidak berdiri sendiri
Nilai itu bukan kiasan. Ia tercatat dalam daftar gaji.
Serdadu Ambon menerima gaji dan ransum lebih tinggi dibanding non-Ambon. Kedudukan istimewa itu bertahan sampai tahun 1920-an, ketika pemerintah kolonial mulai memangkasnya — dan mendapat protes keras dari kelompok yang bersangkutan. Bartels mencatat bahwa sebagian serdadu Ambon justru tertarik pada organisasi yang memperjuangkan kesetaraan status dan gaji antara militer Eropa dan pribumi, tepat pada saat hak istimewa mereka sendiri terancam dicabut.
Kalau kategori menentukan gaji, kategori punya harga. Dan sesuatu yang punya harga akan diperebutkan, dilebarkan, dan dimanipulasi.
Statistik komposisi tentara kolonial memperlihatkan gejalanya. Pada 1916, dari 39.051 personel, tentara itu mengklaim 24 persen serdadunya berasal dari Ambon. Ketika diperiksa lebih dekat, mayoritas dari jumlah itu ternyata berasal dari kawasan Menado. Perhitungan yang lebih rinci untuk tahun yang sama menempatkan orang Maluku pada sekitar 9 persen dan orang Menado pada sekitar 15 persen.
Selisih antara 24 persen dan 9 persen bukan kesalahan aritmetika. Itu keputusan administratif tentang siapa yang dimasukkan ke kotak mana — kotak yang, seperti sudah disebut, membawa konsekuensi gaji.
Untuk 1927, gambarannya bergeser lagi: dari sekitar 37.000 personel, separuhnya berasal dari Jawa, disusul Eropa 18 persen, Menado 15 persen, Ambon 12 persen, dan Timor 4 persen.
Satu catatan kehati-hatian perlu ditambahkan di sini, dan justru catatan ini yang paling relevan dengan tema tulisan. Angka absolut 1916 yang dikutip Bartels dari Van Kaam mencantumkan 17.854 orang Jawa dari total 39.051 — sekitar 46 persen. Sementara satu artikel jurnal yang mengutip sumber yang sama menyebut proporsi Jawa pada 1916 sebesar 20 persen. Angka Eropa, Menado, dan Maluku dari kedua kutipan itu cocok satu sama lain; hanya angka Jawa yang tidak. Sampai salah satunya diverifikasi langsung ke Van Kaam, pembaca sebaiknya menganggap proporsi Jawa pada 1916 sebagai belum pasti.
Perbedaan semacam ini biasanya lenyap ketika angka disalin ulang. Yang tersisa adalah satu bilangan tunggal yang terdengar pasti. Kekeliruan turunan yang paling sering muncul adalah pernyataan bahwa orang Ambon membentuk separuh militer kolonial — angka yang tidak cocok dengan data mana pun, dan kemungkinan besar merupakan kategori administratif yang sudah menggelembung, digelembungkan sekali lagi oleh penyalinan yang ceroboh.
Apa yang tidak dikatakan data ini
Statistik komposisi etnis mencatat berapa banyak dan dari mana. Ia diam tentang bagaimana.
Upaya awal merekrut pemuda Ambon sebagian besar gagal. Kekurangan sukarelawan membuat Belanda menempuh praktik pemaksaan — menculik pemuda Kristen dan mengapalkan mereka ke Jawa. Praktik itu menjadi salah satu sebab utama pemberontakan Pattimura, dan menurut Bartels praktik yang dipersoalkan tetap berlanjut bahkan setelah pemberontakan itu ditumpas.
Tidak ada satu pun dari peristiwa itu yang muncul dalam tabel komposisi. Seorang pemuda yang diculik dan seorang pemuda yang mendaftar karena tertarik gaji tercatat dengan cara yang sama persis: satu orang, kategori Ambon, tahun sekian.
Hal serupa berlaku untuk rekrutan Elmina. Konstruksi “membeli kebebasan sendiri lewat uang muka” menghasilkan catatan administratif yang menyebut mereka sukarelawan. Arsip mencatat status hukumnya dengan tepat dan menyembunyikan cara memperolehnya dengan sempurna.
Yang perlu diingat pembaca: lembaga yang menghitung adalah lembaga yang berkepentingan pada hasil hitungannya. Kategori etnis dalam statistik kolonial bukan cermin yang ditaruh di depan masyarakat, melainkan instrumen pemerintahan yang menghasilkan angka sebagai efek sampingnya.
Warisan struktural
Pasukan yang menghadapi invasi Jepang pada Desember 1941 adalah produk akhir dari sistem ini. Perwiranya Eropa dan Indo-Eropa, bintaranya campuran, prajuritnya sebagian besar pribumi dengan konsentrasi yang tidak merata secara geografis. Struktur itu tidak lahir dari pertimbangan militer murni. Ia lahir dari kalkulasi tentang siapa yang bisa dipercaya memanggul senjata di wilayah siapa.
Klaim struktural ini jauh lebih kokoh daripada angka mana pun yang disebut di atas, karena ia didukung banyak sumber independen dan tidak bergantung pada definisi kategori. Rincian numeriknya — berapa batalion di mana, berapa kekuatan garnisun tertentu — jauh lebih rapuh, dan sebaiknya tidak dikutip tanpa verifikasi ke seri sejarah resmi.
Sebutan Londo Ireng sendiri akhirnya kehilangan rujukan aslinya. Orang Afrika Barat yang pertama kali menyandangnya menyusut menjadi komunitas kecil di Purworejo dan beberapa kota garnisun, lalu sebagian besar pindah ke Belanda pada 1950-an. Yang tersisa adalah istilah tanpa penyandang — dan gugus pertanyaan tentang siapa yang berhak mendefinisikan siapa, yang tidak ikut hilang bersamanya.
Baca juga: 36 Klaim, 3 yang Kuat: Catatan Verifikasi Sejarah Militer Kolonial — audit metodologis yang menelusuri dari mana angka-angka komposisi etnis semacam ini sebenarnya berasal, dan seberapa jauh angka itu bisa dipercaya.
Referensi
Bartels, Dieter. “From Black Dutchmen to White Moluccans: Ethnic Metamorphosis of an East Indonesian Minority in the Netherlands.” Makalah dipresentasikan pada First Conference on Maluku Research, Center for Southeast Asian Studies, University of Hawaii at Manoa, Honolulu, 16–18 Maret 1990.
De Moor, Jaap. “The recruitment of Indonesian soldiers for the Dutch Colonial Army, c. 1700–1950.” Dalam David Killingray dan David Omissi (ed.), Guardians of Empire: The Armed Forces of the Colonial Powers c. 1700–1964. Manchester: Manchester University Press.
Heshusius, C.A. Het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger 1830–1950. Rujukan statistik komposisi 1927 sebagaimana dikutip dalam literatur sekunder; lihat juga Zwitser dan Heshusius (1977).
Van Kaam, Ben. Ambon door de Eeuwen. Baarn: Uitgeverij In den Toren, 1977. Sumber asal angka komposisi 1916.
Van Kaam, Ben. The South Moluccans. London: C. Hurst & Co., 1980.
Van Kessel, Ineke. Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië. Tersedia melalui repositori publikasi ilmiah Universitas Leiden.
Zwitser, H.L. dan C.A. Heshusius. Het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger 1830–1950. Den Haag, 1977.
Untuk konteks kampanye 1941–1942: Krijgsgeschiedkundige Sectie van de Generale Staf, Nederlands-Indië contra Japan, 7 jilid, Den Haag: Staatsuitgeverij, 1949–1961; dan Willem Remmelink (ed.), The Invasion of the Dutch East Indies, Leiden: Leiden University Press, 2015 (akses terbuka).