← Kembali ke publikasi
Artikel & Opini · Kebijakan Publik & Tata Kelola · Bedah Kebijakan

Macaúba vs Kelapa Sawit: Yang Diperebutkan Bukan Hasil Panen, Tapi Klasifikasi

Ilustrasi perbandingan macaúba dan kelapa sawit: buah macaúba merah dan minyaknya berwarna oranye kemerahan di sisi kiri, buah kelapa sawit dan minyaknya berwarna kuning keemasan di sisi kanan, dengan latar belakang perkebunan palem.

Brasil sedang membangun rantai pasok minyak nabati baru dari nol. Indonesia sudah punya yang terbesar di dunia. Tapi di pasar bahan bakar penerbangan, yang menentukan bukan siapa yang panen lebih banyak — melainkan bahan baku siapa yang diakui regulator.


Ada pohon palem berduri asli Cerrado Brasil yang sampai beberapa tahun lalu nyaris tidak ada di peta perdagangan global. Namanya macaúba (Acrocomia aculeata). Sekarang ia jadi bahan pembicaraan paling ramai di industri sustainable aviation fuel (SAF).

Pemicunya Acelen Renováveis, perusahaan milik Mubadala Capital. Mei 2026, perusahaan ini mengunci pembiayaan utang US$1,5 miliar — dipimpin HSBC dan IFC, bersama sepuluh lembaga lain termasuk BNDES, IDB Invest, AIIB, KfW IPEX dan Bank of China — untuk membangun biorefinery di São Francisco do Conde, Bahia. Kapasitasnya 1 miliar liter SAF dan diesel terbarukan per tahun, beroperasi 2029, total nilai proyek terintegrasi di atas US$3 miliar. Sekitar 90% volume penjualannya sudah dikontrak ke Trafigura, Moeve, Bunge dan BGN.[1][2]

Refleks pertama membaca berita ini adalah: pesaing baru sawit sudah datang. Tapi begitu detailnya dibuka, ceritanya berbeda — dan jauh lebih relevan buat Indonesia.

Pabriknya belum dirancang jalan dengan macaúba

Sesuai dokumen pembiayaannya, bahan baku biorefinery Acelen adalah campuran minyak kedelai, minyak jelantah, lemak sisa, dan minyak macaúba.[1][2] Kebun macaúba-nya sendiri baru sekitar 644 hektare tertanam, dengan target 2.000 hektare pada akhir 2026 — dari ambisi jangka panjang 144.000 hektare di Bahia dan Minas Gerais utara. Buah macaúba baru mulai dipanen sekitar 2031, dua tahun setelah pabriknya menyala.[3]

Jadi urutannya: pabrik jalan 2029 dengan kedelai dan jelantah; macaúba masuk pada dekade 2030-an. Angka US$3 miliar dan 144.000 hektare adalah rencana, bukan realisasi.

Yang sudah nyata adalah infrastruktur risetnya. Acelen Agripark di Montes Claros — investasi R$314 juta, sebagian besar dari BNDES — beroperasi dengan kapasitas 10,5 juta bibit per tahun dan berhasil menaikkan perkecambahan macaúba dari sekitar 3% di alam menjadi 80–85% di laboratorium.[3] Itu pencapaian agronomi serius, tapi belum industri. Itu R&D bermodal besar.

Skala Indonesia ada di kategori yang berbeda

Sepanjang 2025, nilai ekspor produk sawit Indonesia menembus rekor sekitar US$40 miliar dengan volume 38,84 juta ton, dan menyumbang 3,5% PDB nasional.[4] BPDP menghimpun Rp31,5 triliun pungutan ekspor.[5] USDA memperkirakan produksi 46,7 juta ton pada 2025/26 dan 48 juta ton pada 2026/27.[6] Luas kebun 16,38 juta hektare, 42% di antaranya dikelola sekitar 2,9 juta petani.[7]

Bandingkan ukurannya. Seluruh pabrik Acelen — 1 miliar liter setahun — setara sekitar 0,8 juta ton bahan bakar. Mandat B50 Indonesia saja butuh 16,7–18 juta kiloliter biodiesel per tahun, sekitar 15–16 juta ton CPO.[8] Satu program domestik Indonesia ukurannya sekitar 17 kali seluruh biorefinery Acelen. Dan B50 bukan wacana: mandatnya berlaku 1 Juli 2026 lewat Kepmen ESDM No. 257.K/EK.01/MEM.E/2026, dengan transisi tiga bulan sampai 30 September.[9]

Kalau pertanyaannya siapa yang lebih besar, jawabannya tidak menarik. Sawit, telak, dan tidak akan berubah dalam satu dekade.

Produktivitas juga bukan pembedanya

Angka produktivitas macaúba yang beredar perlu dibaca hati-hati. Kajian di OCL memperkirakan 2,5–5 ton minyak/ha/tahun pada kepadatan 400 tanaman per hektare, dan menegaskan itu proyeksi, bukan hasil komersial terbukti.[10] Scientific Reports (2025) mengutip 6,2 ton/ha.[11] Embrapa menyebut potensi sampai 8 ton/ha dalam skenario budidaya rasional.[12]

Kelapa sawit punya potensi 6–8 ton/ha dalam kondisi terbaik. Tapi rata-rata nasional Indonesia hanya 3,6–3,7 ton/ha, dan petani swadaya 3,5 ton/ha.[7]

Artinya potensi kedua tanaman ada di kisaran yang mirip. Sawit sudah membuktikannya di jutaan hektare, macaúba belum di satu hektare komersial pun — dan Indonesia sendiri belum mendekati potensinya sendiri.

Kalau bukan skala dan bukan produktivitas, apa yang sebenarnya dibeli investor Acelen?

Yang dibeli adalah status regulasi

Mulai dari sisi permintaan. IATA memperkirakan produksi SAF global 2026 hanya 2,4 juta ton — 0,8% konsumsi avtur dunia — dengan tambahan biaya US$4,3 miliar bagi maskapai. Untuk jalur net-zero 2050 dibutuhkan sekitar 500 juta ton per tahun, lebih dari 250 kali produksi hari ini.[13] Pasar sekecil itu dengan target sebesar itu berarti siapa pun yang bahan bakunya diakui akan kebanjiran permintaan.

Persoalannya, pengakuan itu tidak diberikan berdasarkan hasil panen.

ReFuelEU Aviation mewajibkan campuran SAF minimal 2% pada 2025, 6% pada 2030, 20% pada 2035, 34% pada 2040 dan 70% pada 2050 untuk semua penerbangan dari bandara Uni Eropa.[14] Tapi Pasal 4(5)-nya secara eksplisit mengeluarkan biofuel dari tanaman pangan dan pakan, dan menyebut spesifik “palm and soy-derived materials”, dari perhitungan pemenuhan mandat.[15]

CPO tidak dikecualikan karena buruk secara emisi. CPO dikecualikan secara kategori. Sebaik apa pun praktik budidayanya, seketat apa pun sertifikasinya, minyak sawit mentah tidak bisa dihitung untuk memenuhi mandat SAF Eropa. Pengecualiannya cuma satu: bahan baku yang masuk Annex IX RED tetap memenuhi syarat — termasuk POME dan tandan kosong kelapa sawit.[15]

Di pasar itu, kartu Indonesia bukan CPO. Kartunya limbah.

Logika yang sama juga mengikat Acelen: minyak kedelai, bahan baku utamanya di tahun-tahun awal, sama-sama dikecualikan. Yang membuat macaúba bernilai strategis justru karena ia bukan tanaman pangan, sehingga lolos ke pasar yang menutup pintu bagi sawit dan kedelai sekaligus. Itu keunggulan klasifikasi, bukan agronomi.

CORSIA menawarkan cerita yang lebih menguntungkan

Kalau Eropa menutup pintu berdasarkan kategori, ICAO lewat CORSIA menilai berdasarkan emisi siklus hidup. Nilai baku edisi November 2025 untuk jalur HEFA:[16]

Bahan bakuCore LCAILUCTotalLolos ambang 80,1?
Sawit, penangkapan biogas POME ≥85%37,436,674,0Ya
Sawit, penangkapan biogas POME <85%60,036,696,6Tidak — di atas basis fosil 89
Kedelai (Brasil)40,420,761,1Ya

(Basis fosil 89 gCO₂e/MJ; SAF wajib minimal 10% lebih rendah, yaitu ≤80,1.)

Perhatikan jaraknya. Satu variabel teknis — apakah pabrik kelapa sawit menangkap metana dari kolam limbahnya — memindahkan sawit dari gagal total ke lolos dengan pengurangan sekitar 17%. Selisihnya 22,6 gCO₂e/MJ, dan seluruh biayanya ada dalam kendali domestik.

Lalu ada kemenangan diplomasi yang belum banyak dirayakan. Desember 2025, ICAO resmi mengakui POME sebagai bahan baku CORSIA dengan nilai baku 18,1 gCO₂e/MJ — sekitar 80% lebih rendah dari basis fosil, tanpa beban ILUC karena berstatus limbah. Usulan itu diajukan Indonesia melalui Kementerian Perhubungan dan Kementerian Luar Negeri, dengan dukungan teknis IPOSS dan PT Tripatra, setelah evaluasi setahun oleh Hasselt University dan JRC Komisi Eropa.[17]

Tapi kartu terbaik itu sedang diekspor mentah

Indonesia memproduksi POME sekitar 168 ribu ton per bulan dan UCO sekitar 18 ribu ton per bulan. Pada 2024, ekspornya mencapai sekitar 4 juta ton POME dan 220 ribu ton UCO senilai kurang lebih US$4 miliar — mayoritas keluar sebagai bahan mentah, bukan diolah jadi SAF di dalam negeri.[18]

Strukturnya jadi ganjil: Indonesia berjuang di ICAO agar POME diakui, lalu mengirim POME itu ke kilang negara lain, yang menjual SAF-nya ke maskapai Eropa dengan margin mandat. Kita memenangkan standarnya, pihak lain memonetisasinya.

Pemerintah sudah mulai mengerem lewat kewajiban persetujuan ekspor UCO dan POME sejak Januari 2025.[19] Tapi rem tidak berarti banyak kalau kapasitas konversinya belum ada. Kilang Pertamina Cilacap saat ini memproduksi SAF lewat co-processing sekitar 27 kiloliter per hari; unit bioavtur baru berbasis jelantah berkapasitas 6.000 barel per hari baru ditargetkan beroperasi 2029.[20] Jalur teknologinya sudah terbukti sejak uji terbang Garuda pada Oktober 2023.[21] Yang belum ada adalah volumenya.

Tiga tenggat menumpuk sebelum 2029

30 Desember 2026 — EUDR. Regulasi bebas deforestasi Uni Eropa berlaku untuk operator besar, menengah dan seluruh operator hilir, mencakup palm oil; mikro dan perorangan menyusul 30 Juni 2027.[22] Ini soal ketertelusuran sampai koordinat kebun — persis di titik 2,9 juta petani swadaya berada.

2027 — mandat bioavtur domestik. Lewat Kepmen ESDM No. 113.K/EK.05/MEM.E/2026, campuran bioavtur diwajibkan minimal 1% pada 2027–2028 dan 5% pada 2029–2030, dimulai dari penerbangan internasional di Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. INACA mengingatkan harga bioavtur masih 4–6 kali avtur biasa.[23]

Sekarang — tekanan fiskal B50. Pada 2025, BPDP menghimpun Rp31,5 triliun tapi menyalurkan Rp47,17 triliun insentif biodiesel.[5] Untuk B50, hitungan BPDP sendiri menunjukkan program ini idealnya butuh tarif pungutan ekspor 23,8%, sementara tarif berlaku 12,5%. Kebutuhan pendanaannya sekitar Rp32,3 triliun dan sangat sensitif terhadap harga minyak.[24][25]

Dibaca bersamaan: Indonesia menambah mandat bioavtur di atas instrumen fiskal yang sudah tegang, menghadapi tenggat ketertelusuran Eropa, sambil mengekspor bahan baku terbaiknya mentah-mentah.

Lima langkah yang perlu diambil

1. Alihkan modal diplomasi dari CPO ke jalur limbah. Pengecualian ReFuelEU bersifat kategoris, bukan berbasis kinerja — melobinya berbiaya tinggi dengan peluang rendah. Energi yang sama, diarahkan ke perluasan Annex IX untuk turunan sawit non-pangan, punya peluang jauh lebih besar. Pengakuan POME oleh ICAO membuktikan pendekatan ini bekerja.

2. Tetapkan penangkapan biogas POME ≥85% sebagai target nasional bertenggat. Ini tuas tunggal yang memindahkan sawit HEFA dari 96,6 ke 74,0 gCO₂e/MJ. Pembiayaannya bisa digeser dari pos BPDP yang kini terserap selisih harga biodiesel — investasi sekali di infrastruktur pabrik, bukan subsidi berulang tiap liter.

3. Ubah ekspor POME/UCO US$4 miliar menjadi ekspor SAF. Bukan lewat larangan, tapi lewat selisih insentif yang membuat konversi domestik lebih menguntungkan daripada kirim mentah. Skema insentif fiskal SAF berbasis UCO yang dikaji ICCT untuk Indonesia layak jadi titik mulai.[26]

4. Bangun satu sistem ketertelusuran, bukan tiga. EUDR, CORSIA dan ISPO menuntut data yang sebagian besar sama: asal lahan, koordinat, legalitas, jejak rantai pasok. Membangunnya tiga kali dengan tiga anggaran tidak akan sanggup ditanggung 2,9 juta petani swadaya. Ketertelusuran adalah infrastruktur akses pasar, bukan beban kepatuhan.

5. Rancang pembiayaan mandat bioavtur 2027 dari sekarang. Model BPDP berhasil membangun pasar biodiesel domestik, tapi sedang mendekati batas fiskalnya. Menumpuk mandat SAF — dengan selisih harga 4–6 kali, jauh lebih lebar daripada biodiesel — di atas kantong yang sama adalah resep gagal bayar. Perlu instrumen terpisah: pungutan SAF pada penerbangan internasional, integrasi dengan pasar karbon domestik, atau kontrak selisih yang membagi risiko harga dengan produsen.

Satu catatan pelengkap: realisasi peremajaan sawit rakyat 2025 hanya 43.590 hektare dari target 100.000 hektare per tahun.[5] Menutup selisih produktivitas petani swadaya dari 3,5 ke 5 ton/ha di 6,94 juta hektare lahan yang sudah ada akan menambah sekitar 10,4 juta ton CPO — kira-kira 14 kali seluruh ambisi macaúba Acelen, tanpa menebang satu pohon pun. Sumber pertumbuhan terbesar Indonesia ada di kebun yang sudah berdiri.

So What?

Macaúba versus sawit bukan pertandingan dua tanaman, melainkan dua cara membangun rantai nilai. Brasil merancang komoditas dari nol agar pas dengan arsitektur regulasi iklim yang sudah ada, dan itu memberinya keunggulan yang tidak bisa dibeli dengan produktivitas. Indonesia punya sesuatu yang butuh puluhan tahun untuk ditiru: 16,38 juta hektare kebun, jaringan kilang, mandat energi domestik terbesar di dunia, dan satu bahan baku limbah yang baru diakui ICAO dengan salah satu nilai emisi terendah di kelasnya.

Keunggulan komparatif tidak otomatis menjadi akses pasar. Yang menentukan bukan berapa juta ton yang bisa diproduksi, melainkan berapa banyak nilai yang bisa ditahan sebelum barangnya keluar pelabuhan.

Selama POME senilai US$4 miliar keluar sebagai bahan mentah dan kembali sebagai bahan bakar buatan orang lain, ancaman terbesar bagi sawit Indonesia bukan pohon palem berduri di Bahia. Ancaman terbesarnya adalah kebiasaan menang di hulu dan menyerahkan hilirnya kepada pihak lain.


Referensi

  1. ESG Today, “Acelen Renewables Secures $1.5 Billion to Build Billion-Liter SAF Project in Brazil” — https://www.esgtoday.com/acelen-renewables-raises-1-5-billion-to-build-1-billion-liter-saf-project-in-brazil/
  2. S&P Global, “Acelen secures $1.5 billion for Brazil SAF biorefinery project”, 25 Mei 2026 — https://www.spglobal.com/energy/en/news-research/latest-news/agriculture/052526-acelen-secures-15-billion-for-brazil-saf-biorefinery-project
  3. The AgriBiz, “Macaúba e IA: como a Acelen quer resolver o nó do custo no SAF” — https://www.theagribiz.com/empresas/bioenergia/macauba-e-ia-como-a-acelen-quer-resolver-o-no-do-custo-no-saf/
  4. InfoSAWIT, “Sawit Sumbang 3,5% PDB, Ekspor 2025 Tembus US$40 Miliar”, 1 Mei 2026 — https://www.infosawit.com/2026/05/01/sawit-sumbang-35-pdb-ekspor-2025-tembus-us40-miliar/
  5. Majalah Hortus, “BPDP Himpun Rp31,5 Triliun Dana Pungutan Ekspor Sawit pada 2025” — https://news.majalahhortus.com/bpdp-himpun-rp315-triliun-dana-pungutan-ekspor-sawit-pada-2025/ ; Riau Aktual, “BPDP Kucurkan Rp47,17 Triliun untuk Insentif Biodiesel 2025” — https://riauaktual.com/news/detail/117527/bpdp-kucurkan-rp4717-triliun-untuk-insentif-biodiesel-2025
  6. USDA FAS, Indonesia: Oilseeds and Products Annual, April 2026 — https://www.fas.usda.gov/data/gain/2026/04/indonesia-oilseeds-and-products-annual ; ringkasan: https://www.ofimagazine.com/news/indonesian-2026-27-palm-oil-production-forecast-to-rise-3-to-48m-tonnes
  7. Sawit Setara, “Kementan Ungkap Luas Lahan Sawit Indonesia 16,38 juta Hektare” — https://www.sawitsetara.co/artikel/Berita/kementan-ungkap-luas-lahan-sawit-indonesia-16-38-juta-hektare-tapi-produktivitas-masih-jadi-tantangan
  8. Kementerian ESDM, “Luncurkan Mandatori B50, ESDM Tegaskan Kesiapan Indonesia Perkuat Kedaulatan Energi” — https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/luncurkan-mandatori-b50-esdm-tegaskan-kesiapan-indonesia-perkuat-kedaulatan-energi
  9. CNBC Indonesia, “Mandatori Biodiesel B50 Mulai Berlaku Juli 2026, Ada Transisi 3 Bulan”, 30 Juni 2026 — https://www.cnbcindonesia.com/news/20260630160744-4-746912/mandatori-biodiesel-b50-mulai-berlaku-juli-2026-ada-transisi-3-bulan
  10. OCL — Oilseeds and fats, Crops and Lipids, “Macauba: a promising tropical palm for the production of vegetable oil” — https://www.ocl-journal.org/articles/ocl/full_html/2018/01/ocl170038s/ocl170038s.html
  11. Scientific Reports (2025), “Current and future development of Acrocomia aculeata focused on biofuel potential and climate change challenges” — https://www.nature.com/articles/s41598-025-92681-7
  12. Embrapa, “Macaúba é matéria-prima promissora para biodiesel” — https://www.embrapa.br/en/busca-de-noticias/-/noticia/2329636/macauba-e-materia-prima-promissora-para-biodiesel
  13. IATA, “SAF Production Volumes Still Disappointing”, 6 Juni 2026 — https://www.iata.org/en/pressroom/2026-releases/06-06-saf-production-volumes-still-disappointing/ ; IATA, Sustainable Aviation Fuel (SAF)https://www.iata.org/en/programs/sustainability/sustainable-aviation-fuel-saf/
  14. EASA, “Fit for 55 and ReFuelEU Aviation” — https://www.easa.europa.eu/en/light/topics/fit-55-and-refueleu-aviation
  15. European Commission, “FAQ on ReFuelEU Aviation” — https://transport.ec.europa.eu/transport-modes/air/environment/refueleu-aviation/faq-refueleu-aviation_en
  16. ICAO, CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels, November 2025 — https://www.icao.int/sites/default/files/environmental-protection/CORSIA/Documents/CORSIA%20Eligible%20Fuels/ICAO-document-06-Default-Life-Cycle-Emissions-November-2025.pdf
  17. Palm Oil Magazine, “ICAO Officially Approves POME as a Certified Feedstock for Sustainable Aviation Fuel”, 13 Desember 2025 — https://www.palmoilmagazine.com/bioavtur/2025/12/13/icao-officially-approves-pome-as-a-certified-feedstock-for-sustainable-aviation-fuel/
  18. ECADIN, “Indonesia’s Bio Feedstock Potential for Sustainable Aviation Fuel (SAF)” — https://ecadin.org/indonesias-bio-feedstock-potential-for-sustainable-aviation-fuel-saf/
  19. Argus Media, “Indonesia necessitates UCO, Pome oil export approvals” — https://www.argusmedia.com/en/news-and-insights/latest-market-news/2644928-indonesia-necessitates-uco-pome-oil-export-approvals
  20. Aviatren, “Pertamina Bangun Kilang Bioavtur di Cilacap, Kapasitas 6.000 Barel per Hari”, 9 Februari 2026 — https://aviatren.com/2026/02/09/pertamina-bangun-kilang-bioavtur-di-cilacap-kapasitas-6-000-barel-per-hari/
  21. Kompas, “SAF, Bioavtur Minyak Sawit Pertama Bikinan Pertamina, Diuji Coba Perdana di Pesawat Garuda”, Oktober 2023 — https://money.kompas.com/read/2023/10/28/090000526/saf-bioavtur-minyak-sawit-pertama-bikinan-pertamina-diuji-coba-perdana-di
  22. European Commission Access2Markets, “Delay until December 2026 and other developments in the implementation of the EUDR Regulation” — https://trade.ec.europa.eu/access-to-markets/en/news/delay-until-december-2026-and-other-developments-implementation-eudr-regulation
  23. Bisnis Indonesia, “Mandatori Bioavtur 2027, INACA Wanti-Wanti Dampak ke Biaya Penerbangan”, 13 Juli 2026 — https://ekonomi.bisnis.com/read/20260713/44/1987664/mandatori-bioavtur-2027-inaca-wanti-wanti-dampak-ke-biaya-penerbangan
  24. Investor Trust, “Implementasi B50 Berisiko Picu Defisit, BPDP Waspadai Tekanan Pembiayaan” — https://investortrust.id/business/101877/implementasi-b50-berisiko-picu-defisit-bpdp-waspadai-tekanan-pembiayaan
  25. RMOL, “BPDP Pastikan Mampu Biayai Selisih Harga B50 hingga Akhir 2026”, 1 Agustus 2026 — https://rmol.id/bisnis/read/2026/08/01/716756/bpdp-pastikan-mampu-biayai-selisih-harga-b50-hingga-akhir-2026
  26. ICCT, “A fiscal incentive program to produce sustainable aviation fuel from used cooking oil in Indonesia”, Oktober 2025 — https://theicct.org/publication/fiscal-incentive-program-to-produce-saf-from-used-cooking-oil-in-indonesia-oct25/
macaúbakelapa sawitsustainable aviation fuelCORSIAReFuelEUPOMEB50biodieselBrasil