← Kembali ke publikasi
Artikel & Opini · Kebijakan Publik & Tata Kelola · Informasi & Kebijakan Publik

Cara Paling Ampuh Menyesatkan Orang Bukan dengan Berbohong

Ilustrasi kabut keraguan menyelimuti simbol data ilmiah dan dokumen kebijakan, melambangkan strategi menciptakan ketidakpastian publik.

Seri Anatomi Manipulasi Informasi — Bagian 1 dari 6. Seri ini menguji klaim-klaim populer soal “taktik kontrol informasi”. Mana yang punya bukti, mana yang cuma terdengar meyakinkan. Daftar lengkapnya ada di bagian penutup.

Kalau ditanya bagaimana publik disesatkan, jawaban paling umum adalah: lewat kebohongan. Ada yang disembunyikan, ada dokumen rahasia, ada fakta yang ditutupi.

Masalahnya, kampanye penyesatan paling sukses dalam sejarah modern hampir tidak memakai kebohongan sama sekali.

Yang mereka produksi bukan kebohongan. Yang mereka produksi adalah keraguan. Dan itu dilakukan terang-terangan, legal, dengan anggaran tercatat, oleh orang-orang bergelar doktor.

Kalimat yang membocorkan segalanya

Tahun 1969, seorang eksekutif perusahaan rokok Brown & Williamson menulis dokumen internal berjudul Smoking and Health Proposal. Dokumen itu sekarang bisa dibaca siapa saja — industri rokok dipaksa membuka arsipnya lewat pengadilan — dan tersimpan di UCSF Truth Tobacco Industry Documents dengan nomor Bates 680561778.

Di dalamnya ada satu kalimat yang belakangan jadi judul buku sejarah sains. Intinya: keraguan itulah produk perusahaan, karena keraguan adalah cara terbaik melawan kumpulan fakta yang sudah tertanam di kepala orang banyak. Sekaligus cara menciptakan kontroversi.

Dua hal yang bikin kalimat ini menarik.

Pertama, ini bukan rencana berbohong. Tidak ada instruksi memalsukan data. Yang direncanakan adalah membikin isunya terasa belum selesai.

Kedua, targetnya bukan ilmuwan. Industri rokok tidak perlu menang di jurnal ilmiah. Cukup memastikan bahwa di mata publik, isunya terlihat seperti perdebatan dua kubu yang seimbang.

Kenapa “buktinya belum cukup” itu senjata

Sains selalu punya lubang. Selalu ada variabel yang belum diuji, sampel yang bisa diperbesar, mekanisme yang belum sepenuhnya jelas. Itu normal — begitulah cara kerjanya.

Dan di situlah celahnya.

Selama masih ada satu pertanyaan terbuka — dan selalu ada — akan selalu tersedia satu kalimat yang secara teknis benar: buktinya belum konklusif. Kalimat ini tidak bisa dituntut. Tidak bisa dibantah dengan telak. Bisa diulang selama tiga puluh tahun.

Sejarawan sains Naomi Oreskes dan Erik Conway melacak pola ini di buku Merchants of Doubt (2010). Temuan mereka yang paling bikin merinding bukan soal rokok, tapi soal orangnya.

Ilmuwan yang sama muncul berulang kali: menyangkal bahaya rokok, lalu menyangkal hujan asam, lalu menyangkal lubang ozon, lalu menyangkal pemanasan global. Bukan karena mereka ahli di keempat bidang itu. Tapi karena keahlian yang dibutuhkan memang bukan keahlian teknis — melainkan kemampuan tampil kredibel sambil bilang “buktinya belum cukup”.

David Michaels, ahli epidemiologi yang kemudian memimpin OSHA, menemukan mekanisme yang sama persis di industri kimia. Bukunya, Doubt Is Their Product (2008). Industrinya beda, arsitekturnya identik.

Sejarawan Robert Proctor bahkan memberi nama untuk bidang kajian ini: agnotologi — studi tentang bagaimana ketidaktahuan diproduksi dengan sengaja.

Empat komponen yang bikin ini awet

Lembaga riset yang kelihatan netral. Industri rokok mendirikan Council for Tobacco Research. Namanya netral, penelitinya asli, sebagian risetnya bagus. Yang diatur bukan hasilnya — tapi pertanyaannya. Diarahkan ke area yang ketidakpastiannya memang besar.

Perantara. Temuan disalurkan lewat lembaga kajian yang secara formal tidak terkait industri. Publik menerimanya sebagai suara independen.

Aturan main media. Ini yang paling sering luput. Jurnalisme yang baik mewajibkan pemberitaan dua sisi. Tapi kalau buktinya sudah timpang 95 banding 5, menampilkan “dua sisi” justru bikin publik melihat 50 banding 50. Industri tidak perlu menekan redaksi. Cukup menyediakan narasumber yang layak kutip.

Waktu. Tujuannya bukan menang. Tujuannya menunda. Dan setiap tahun penundaan regulasi punya nilai rupiah yang bisa dihitung.

Ini bukan teori konspirasi — dan bedanya penting

Teori konspirasi mengandaikan koordinasi rahasia yang tidak bisa diverifikasi. Anehnya, teori semacam itu justru makin kuat ketika buktinya tidak ketemu.

Kasus industri keraguan kebalikannya. Koordinasinya legal. Dokumennya terbuka karena proses pengadilan. Dan yang paling penting: klaimnya bisa salah. Kalau arsipnya ternyata menunjukkan hal lain, tesisnya gugur.

Itu sebabnya kerangka ini layak dipakai dalam kajian kebijakan, sementara daftar “taktik rahasia” tidak. Yang satu menghasilkan hipotesis yang bisa diuji. Yang satu lagi menghasilkan kecurigaan yang tidak bisa dibantah — dan sesuatu yang tidak bisa dibantah itu bukan analisis. Soal ini kami bahas lebih dalam di tulisan tentang limited hangout.

Bagaimana dengan Indonesia?

Ada tiga kondisi yang bikin mekanisme ini lebih gampang bekerja di sini dibanding di tempat asalnya.

Aturan pengungkapan pendanaan riset masih longgar. Jurnal nasional belum seragam mewajibkan pernyataan konflik kepentingan. Kalaupun ada, penegakannya bergantung itikad baik penulis. Pembaca sering tidak punya cara tahu siapa yang membiayai sebuah kajian.

Lembaga riset independen terkonsentrasi. Yang mampu bikin kajian kebijakan bermutu tanpa dana dari sektor terkait jumlahnya terbatas, apalagi di luar Jawa. Efeknya, bobot kajian yang didanai pihak berkepentingan jadi lebih besar.

Prinsip “cover both sides” dipakai tanpa menimbang bukti. Termasuk untuk isu yang konsensus ilmiahnya sebenarnya sudah kuat.

Sektor yang paling rawan adalah yang punya tiga ciri sekaligus: dampak kesehatan atau lingkungan yang baru terasa bertahun-tahun kemudian, modal besar yang terkonsentrasi, dan basis bukti yang memang rumit. Tembakau, sawit, dan tambang memenuhi ketiganya.

Tapi tolong dibaca pelan-pelan: bilang sebuah sektor rawan secara struktural itu beda jauh dengan bilang perusahaan tertentu sedang melakukan kampanye pengaburan. Yang pertama analisis risiko, bisa disimpulkan dari karakter sektornya. Yang kedua tuduhan, dan butuh bukti dokumen soal siapa melakukan apa.

Menggabungkan keduanya adalah kesalahan yang persis sama dengan yang dikritik artikel ini.

Empat pertanyaan yang bisa langsung dipakai

Berlaku untuk kajian kebijakan apa pun, tanpa perlu menuduh siapa-siapa:

  1. Siapa yang mendanai, dan apakah itu diumumkan? Bukan untuk langsung menolak temuannya, tapi untuk tahu seberapa keras kita perlu mengecek ulang.
  2. Kesimpulannya soal bukti, atau soal kecukupan bukti? “Tidak ada hubungan” dan “belum cukup bukti untuk menyimpulkan adanya hubungan” itu dua hal yang sangat berbeda — dan sering tertukar di berita.
  3. Apa yang bisa membuat penulisnya berubah pikiran? Kalau tidak ada jawabannya, itu bukan posisi ilmiah.
  4. Bagaimana bunyi konsensus di bidangnya? Satu studi bukan bukti. Ia cuma satu suara dalam kumpulan bukti.

Yang tidak bisa dijawab bukti ini

Arsip tembakau itu berlaku untuk industri rokok Amerika pada periode tertentu. Ia membuktikan strategi itu ada, terdokumentasi, dan berhasil di kasus itu.

Ia tidak membuktikan strategi yang sama sedang jalan di sektor lain, di negara lain, atau hari ini. Untuk itu butuh arsip yang setara.

Dan untuk Indonesia, arsip semacam itu tidak ada. Litigasi yang memaksa korporasi membuka dokumen internal — yang melahirkan koleksi UCSF — belum pernah terjadi di sini.

Artinya analisis untuk konteks Indonesia cuma bisa sampai di level risiko struktural dan pola yang konsisten dengan. Bukan di level pembuktian.

Membedakan keduanya bukan sikap terlalu hati-hati. Itu justru yang memisahkan analisis dari tuduhan.


Lanjutan seri ini:

Rujukan utama

  • Smoking and Health Proposal, Brown & Williamson, 1969. Bates No. 680561778, UCSF Truth Tobacco Industry Documents.
  • Oreskes, N. & Conway, E. M. (2010). Merchants of Doubt. Bloomsbury Press.
  • Michaels, D. (2008). Doubt Is Their Product. Oxford University Press.
  • Proctor, R. N. & Schiebinger, L. (ed.) (2008). Agnotology: The Making and Unmaking of Ignorance. Stanford University Press.
  • United States v. Philip Morris USA Inc., putusan Pengadilan Distrik Columbia, 2006.
disinformasiagnotologikebijakan publikriset kebijakankonflik kepentingan