← Kembali ke publikasi
Artikel & Opini · Geopolitik & Hubungan Internasional

Apakah Piala Dunia Dapat Meredam Perang dan Konflik Global: Apa Kata Sejarah dari 1938 hingga 2026

Kolase tema Piala Dunia: trofi emas dan bola kulit klasik di tengah, dikelilingi foto-foto bersejarah berlabel 1938, Perang Dunia II, Era Perang Dingin, Konflik Modern, Gencatan Senjata, dan 2026, dengan koran berjudul 'Football Unites the World'.

Saat artikel ini ditulis, Piala Dunia 2026 sedang memasuki babak 16 besar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko — sementara perang di Ukraina memasuki tahun kelima tanpa gencatan senjata menyeluruh, dan Rusia sendiri tersingkir dari turnamen akibat invasinya. Kontras ini adalah pintu masuk yang tepat untuk menguji ulang satu asumsi populer: benarkah Piala Dunia punya kekuatan meredam konflik global?

Jawaban singkatnya: tidak, setidaknya bukan secara langsung dan sistematis. Namun sejarah tiga era besar — Perang Dunia II, Perang Dingin, dan konflik modern — menyingkap sesuatu yang lebih menarik ketimbang sekadar “ya” atau “tidak”. Sepak bola internasional cenderung memantulkan dan kadang memperkuat kondisi geopolitik yang sudah ada, bukan mengubah arahnya.

Ketika Perang Menghentikan Piala Dunia, Bukan Sebaliknya

Kasus paling jelas datang dari periode paling kelam abad ke-20. Piala Dunia 1942, yang sedianya diperebutkan saat Eropa mulai terbakar, dibatalkan total begitu Jerman menginvasi Polandia. Piala Dunia 1946 bernasib sama — bukan karena perang masih berkecamuk, tapi karena Eropa pascaperang tak punya sumber daya untuk menggelar turnamen sebesar itu. Dunia sepak bola baru berkumpul kembali di Brasil tahun 1950, setelah absen 12 tahun sejak edisi 1938 di Prancis.

Urutan sebab-akibatnya jelas: perang menghentikan Piala Dunia, bukan Piala Dunia yang menahan perang.

Perang Dingin: Panggung Propaganda, Bukan Ruang Damai

Sepanjang 1950 hingga 1990, Piala Dunia digelar tanpa jeda setiap empat tahun — melintasi Krisis Rudal Kuba, eskalasi Perang Vietnam, hingga invasi Soviet ke Afghanistan. Tak satu pun krisis besar itu mereda karena adanya turnamen sepak bola.

Yang justru terjadi adalah sebaliknya: sepak bola menjadi kanal ekspresi rivalitas ideologi, bukan peredamnya. Contoh paling gamblang adalah laga Jerman Barat versus Jerman Timur di Piala Dunia 1974 — satu-satunya pertemuan kedua negara di level senior sepanjang sejarah keduanya. Jerman Timur menang 1-0 lewat gol Jürgen Sparwasser, dan media negara itu langsung memakainya sebagai bukti kemenangan sistem sosialis. Jerman Barat, di sisi lain, tetap menolak mengakui kedaulatan Jerman Timur — pers Jerman Barat bahkan selalu menulis namanya dalam tanda kutip. Jerman Timur sendiri menolak semua permintaan pertandingan ulang dari Jerman Barat selama 16 tahun berikutnya, sampai reunifikasi 1990 tiba. Pertandingan itu tidak membuka dialog. Ia justru mengunci kebekuan yang sudah ada.

Kasus yang lebih ekstrem berakar dari kualifikasi Piala Dunia, bukan turnamen utamanya. Pada 1969, serangkaian laga kualifikasi Piala Dunia 1970 antara El Salvador dan Honduras memperburuk ketegangan lama soal tanah, migrasi, dan ekonomi kedua negara, hingga memicu Perang Sepak Bola — konflik militer 100 jam yang menewaskan ribuan orang. Di sini sepak bola bukan peredam. Ia pemantik.

Era Modern: Instrumen Sanksi, Bukan Rekonsiliasi

Pola yang sama berulang setelah Perang Dingin usai. Perang Teluk, invasi Irak, perang saudara Suriah — semuanya berjalan tanpa terganggu jadwal Piala Dunia. Kasus paling relevan hari ini justru menegaskan arah kausalitas yang terbalik: pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, FIFA mengeluarkan Rusia dari seluruh kompetisi internasionalnya, termasuk Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung sekarang. Perang itu sendiri masih berlanjut hingga awal Juli ini, dengan pertempuran di Donetsk timur dan tanpa gencatan senjata menyeluruh, meski ada upaya diplomatik berulang dari Washington. Jeda-jeda singkat yang sempat terjadi tahun ini — seputar Paskah Ortodoks dan Hari Kemenangan Mei lalu — terkait perayaan nasional Rusia, bukan jadwal sepak bola.

Dengan kata lain: konfliklah yang menentukan siapa boleh bermain di Piala Dunia, bukan Piala Dunia yang menentukan apakah konflik berlanjut.

Iran di Piala Dunia 2026: Bertanding Sambil Berperang dengan Tuan Rumah

Kasus paling ekstrem dari pola ini justru terjadi di edisi 2026 itu sendiri. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Iran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke Israel, pasukan AS di kawasan, dan sejumlah negara Teluk sekutu Washington, sekaligus mencekal lalu lintas di Selat Hormuz — jalur vital pasokan energi dunia. Gencatan senjata yang rapuh baru tercapai pada 8 April, tapi hingga turnamen bergulir, kedua pihak belum juga merundingkan penghentian perang secara permanen, dan letupan ketegangan sesekali masih terjadi.

Di tengah situasi itu, tim nasional Iran yang sudah lolos ke Piala Dunia 2026 sempat berada dalam ketidakpastian besar. Menteri olahraga Iran sempat menyatakan negaranya tak bisa lagi berpartisipasi pasca-serangan, sementara ketua federasi sepak bola Iran, Mehdi Taj, menyebut serangan itu sebagai insiden yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan, dan mengatakan timnya sulit menatap Piala Dunia dengan harapan. Karena Iran tak punya hubungan diplomatik langsung dengan Amerika Serikat, para pemain harus berlatih lebih dari dua pekan di Antalya, Turki, sebelum sebagian di antara mereka pergi ke Ankara untuk mengajukan visa lewat Kedutaan Besar AS di sana — proses yang baru rampung hanya sehari sebelum laga pembuka mereka. Presiden Trump sendiri sempat berkomentar dirinya tidak terlalu peduli apakah Iran bermain atau tidak, sebelum Presiden FIFA Gianni Infantino mengklaim Trump telah menjamin Iran akan diterima di turnamen.

Iran akhirnya tampil — situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Piala Dunia: tim nasional bertanding di turnamen yang tuan rumahnya berstatus berperang dengan negaranya sendiri. Di lapangan, Iran tampil solid: seri 2-2 lawan Selandia Baru, seri 0-0 lawan Belgia, dan seri 1-1 lawan Mesir pada laga penutup yang dramatis, di mana posisi klasemen Grup G berubah berkali-kali dalam sepuluh menit terakhir sebelum akhirnya Iran tersingkir lewat selisih gol.

Kasus ini justru menguatkan argumen utama artikel ini, bukan melemahkannya. Gencatan senjata 8 April lahir dari jalur diplomatik yang sepenuhnya terpisah dari kalender Piala Dunia, dan tetap rapuh sepanjang turnamen berlangsung. Kehadiran Iran di lapangan pun murni hasil negosiasi teknis soal visa, bukan terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran. Piala Dunia menjadi panggung yang menampilkan perang itu ke mata dunia, lengkap dengan drama visa dan pernyataan pedas kedua pihak — tapi tak sedikit pun mengubah jalannya perang itu sendiri.

Bukti dari Riset: Nasionalisme Sepak Bola Bisa Memicu Agresi

Klaim ini bukan sekadar kesan anekdotal. Andrew Bertoli, saat itu peneliti di Dartmouth, mengujinya secara sistematis lewat desain regression discontinuity — membandingkan negara yang nyaris lolos kualifikasi Piala Dunia dengan yang nyaris gagal, dari edisi 1958 sampai 2010. Hasilnya terbit di jurnal International Studies Quarterly tahun 2017: negara yang berhasil lolos justru memulai lebih banyak sengketa militer internasional setelah turnamen, dan pasangan negara yang bertanding langsung 56 persen lebih mungkin terlibat konflik di kemudian hari. Menurut Bertoli, gelombang nasionalisme dari kualifikasi Piala Dunia menghasilkan efek kira-kira dua perlima dari efek yang ditimbulkan sebuah revolusi domestik terhadap agresivitas sebuah negara.

Temuan ini membalik asumsi yang sering diulang para pemimpin dunia dan lembaga internasional sejak awal abad ke-20: bahwa olahraga internasional otomatis menyalurkan energi nasionalisme ke jalur yang aman. Faktanya, energi itu kadang justru membesar.

Sisi Lain: Sepak Bola Sebagai Katalis, Bukan Solusi

Namun sejarah juga mencatat momen-momen ketika sepak bola membuka ruang simbolik yang sulit dicapai jalur diplomatik biasa. Kasus paling dikenang adalah kualifikasi Pantai Gading ke Piala Dunia 2006. Begitu tim itu memastikan tiket lewat kemenangan atas Sudan, Didier Drogba dan rekan setimnya berlutut di ruang ganti dan memohon kedua pihak perang saudara — pemerintah dan kelompok pemberontak New Forces — untuk meletakkan senjata. Beberapa minggu berselang, gencatan senjata tercapai, dan perjanjian damai resmi diteken awal 2007. Tapi momentum ini rapuh: perang saudara pecah lagi pada 2010–2011 setelah pemilu yang disengketakan, membuktikan bahwa efek simbolik sepak bola tak pernah benar-benar menggantikan proses politik yang sesungguhnya.

Pola serupa terlihat pada laga Amerika Serikat lawan Iran di Piala Dunia 1998. Kedua tim melanggar protokol dengan berfoto bersama, dan pemain Iran memberi mawar putih — simbol perdamaian dalam budaya Persia — kepada tim Amerika. Hubungan diplomatik kedua negara tak berubah signifikan setelahnya, tapi momen itu tetap dikenang sebagai gestur kemanusiaan langka di tengah ketegangan yang membeku sejak 1979.

Center for Strategic and International Studies, dalam analisisnya menjelang Piala Dunia 2026, merangkum pola ini dengan tepat: sepak bola hanya bisa menghasilkan terobosan diplomatik kalau perundingan tenang sudah berjalan di baliknya, dan ada kemauan politik dari para pemimpin terkait. Bahkan kasus ping-pong diplomacy — kunjungan mendadak tim tenis meja Amerika ke Tiongkok tahun 1971 yang membuka jalan bagi kunjungan Nixon setahun kemudian — hanya berhasil karena sudah ada perundingan rahasia yang berjalan di belakang layar. Olahraga menjadi pintu, bukan kunci.

Sebagai pembanding, ada satu tradisi gencatan senjata formal yang benar-benar diakui dalam hukum internasional: Olympic Truce, warisan Yunani kuno yang dihidupkan kembali lewat resolusi PBB sejak 1993. Tapi tradisi ini eksklusif untuk Olimpiade, bukan Piala Dunia — dan bahkan itu pun berulang kali dilanggar, termasuk saat Rusia menyerbu Georgia tepat bersamaan dengan pembukaan Olimpiade Beijing 2008. Piala Dunia bahkan tidak punya mekanisme seremonial seketat itu.

Jadi, Apa Fungsi Sebenarnya Piala Dunia?

Menyatukan bukti dari tiga era ini, gambarannya menjadi jernih. Piala Dunia bukan mekanisme kausal yang meredam konflik global — tidak ada satu pun edisi turnamen yang terbukti menghentikan atau bahkan memperlambat perang yang sedang berlangsung. Yang benar-benar terjadi adalah tiga pola yang saling tumpang tindih.

Pertama, perang menentukan Piala Dunia, bukan sebaliknya — lewat pembatalan total seperti 1942 dan 1946, sanksi pengecualian seperti yang dialami Rusia sejak 2022, atau drama visa dan ketidakpastian seperti yang dialami Iran pada 2026 di tengah perangnya dengan tuan rumah sendiri. Kedua, Piala Dunia bisa memperkuat nasionalisme hingga taraf agresi, seperti dibuktikan data kuantitatif Bertoli dan kasus konkret Perang Sepak Bola 1969. Ketiga, Piala Dunia bisa menjadi kanal simbolik, tapi hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti, proses diplomasi dan kemauan politik yang sudah berjalan — seperti pada kasus Pantai Gading 2005 dan Amerika-Iran 1998.

Bagi siapa pun yang berharap turnamen empat tahunan ini bisa jadi jalan pintas menuju perdamaian dunia, sejarah memberi jawaban yang jujur. Sepak bola adalah cermin geopolitik, bukan penawarnya. Ia bisa memperkuat apa yang sudah ada — entah itu ketegangan atau itikad baik — tapi tidak pernah cukup kuat untuk mengubah arahnya sendiri.


Artikel ini disusun berdasarkan situasi hingga awal Juli 2026 — perlu diperbarui jika status perang Rusia-Ukraina atau kelanjutan Piala Dunia 2026 berubah signifikan setelahnya.